Sabtu, 17 Desember 2011

Natal, Pelayanan & Papa

Baru saja aku pulang dari Natal Anak dan Remaja CCA 2011 Gelombang I. Tadinya mau ikut kembali Gelombang II, tapi berhubung mama meminta pulang, akhirnya pun dibatalkan. Mulai dari sebelum mulai ibadahsampai di perjalanan pulang ke rumah, pikiranku mengingat-ingat masa aku mash pelayanan dulu.
Aku lupa sejak tahu berapa, tapi kalau tak salah sejak aku duduk di bangku SD. Natal adalah masa yang menyenangkan. Masa-masa sebelum Natal juga sudah terasa menyenangkan. Latihan untuk persiapan Natal benar-benar menyenangkan meski pulang larut malam. Aku benar-benar sangat menyukainya.
Pada saat Natal, tak lupa papa ada bersama kami. Papa menonton dan menemani kami. Oh yah, juga ada Ompung Pintu Air. Amat sangat menyenangkan.
Benar-benar sangat bahagia. Kami latihan. Kami melayani. Tapi aku tidak merasa letih. Aku amat sangat menyukainya. Amat sangat senang.
Pulang pelayanan, setelah gelombang terakhir, kami akan bersama-sama makan malam. Kami semua amat sangat bahagia. Terkadang kami makan malam tanpa sebelumnya mengganti kostum tari kami. Tapi tak apa.
Kenangan itu sangat indah. Amat sangat menyenangkan. Tapi kenapa itu terasa amat menyesakkan dadaku ?

Pelayananku terakhir di atas mimbar itu dalam acara Natal adalah Natal tahun 2005. Pada Natal itu aku sudah menyadari bahwa itu adalah pelayanan terakhirku sebelum aku pergi merantau ke Jawa untuk kuliah. Jujur, aku merasa amat sangat berat meninggalkan pelayanan itu. Namun perasaan sakitku lebih terasa menyiksaku. Akhirmya aku memilih untuk kabur dari Medan, kabur dari kenyataan, kabur dari 'dia'.

Mengingat Natal tahun 2005. Masih ada papa dan Ompung Pintu Air. Aku masih melayani mulai dari ibadah sampai perayaan. Suasanan latihan yang hampir setiap hari. Suasana di balik panggung. Aku amat sangat merindukan semua ini.
Ada papa yang menunggui kami bersama mama. Ada ompung yang datang untuk melihat kami cucunya kemudian mentraktir kami makan malam.

Sesak.... Dadaku terasa sesak....

Sabtu, 10 Desember 2011

Dear Heavenly Father...

Bapa... natal ini adalah natal pertama kali tanpa papa. Tahun lalu aku masih punya papa. Bahkan aku masih tidur bersama papa. Dipeluk oleh papa. Mencium aroma tubuh papa. Dibelai papa. Mendengar suara papa.
Tapi kini semua itu sudah tidak ada. Bahkan lama kelamaan aku malah sudah melupakan aroma tubuh papa. Aku sudah melupakan suara papa. Aku benar-benar merindukan semua ini, Bapa.

Aku menyadari bahwa suatu saat kau dapat memanggil orang tuaku. Tapi bagiku aku belum siap dengan kepergian papa. Yah, memang tidak ada yang siap untuk ditinggalkan.

Yang aku miliki adalah sekarang tinggal mama, adikku Samuel, dan keluargaku. Aku takut untuk mencintai orang lain lagi karena aku takut untuk kehilangan. Lebih baik aku melepaskan terlebih dahulu sebelum nantinya aku akan menderita karena kehilangan.

Aku melepaskan cinta pertamaku
Aku melepaskan orang yang telah bersamaku bertahun-tahun lamanya
Aku menjauh dari teman-temanku
Karena aku takut
Aku takut dengan perasaan sakit ini
Teramat sakit perasaan ditinggalkan
Terlebih lagi perasaan rindu yang menyiksa ini

Bapaku yang terkasih, tolong aku